LAPORAN ANFIS TENTANG PANCA INDERA
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Panca indra merupakan basgian tubuh manusia yang memiliki
fungsi khusus dalam mengenali benda yang ada disekitarnya dalam bentusak bau,
bentuk, rasa, suara, dan gambar. Lima macam panca indra manusia masing – masing
disebut sebagi indra pembau (hidung), indra perasa (lidah), indra peraba
(kulit), indra pendengaran (telinga), dan indra penglihatan (mata).
Setiap
individu diciptakan dengan sitem indra yang digunakan dan lengkap untuk mampu berinteraksi
dengan keadaan lingkungan sekitar, yang dapat diperoleh melalui indra.
Informasi tersebut dihantarkan keotak untuk diolah dan diartikan sehingga
individu melihat, mendengar, mencium, mengecap, dan meraba. Jadi masing-masing
alat indra memiliki kepekaan terhadap rangsangan dari luar yang disebut
reseptor.
Alat indra kita memiliki bagian yang dapat menerima rangsang berupa ujung-ujung saraf sensorik atau sel-sel reseptor. Satu macam reseptor hanya mampu menanggapi satu macam rangsangan, rangsangan yang diterima oleh sel reseptor terlebih dulu kemudian dihantarkan ke pusat susunan saraf melalui serabut saraf sensorik. Didalam pusat susunan saraf, impuls saraf tersebut diolah dan diartikan sehingga individu mengetahui apa yang terjadi di sekitar kita. Setelah itu, otak memerintahkan jenis tanggapan yang akan diberikan. Hal ini merupakan bagian dari mekanisme otomatis indra manusia dalam menerima dan memproses informasi yang kemudian menjadi bagian dari pikiran, memori serata dunia.
B. TUJUAN
Uuntuk mengetahui tingkat kepekaan dalam membedakan bahan pada indra penciuman, indra penglihatan, indra perasa, indra peraba, dan indra pendengara
BAB
II
TINJAUAN PUSTAKA
Panca indra
adalah alat-alat tubuh yang berfungsi mengetahui keadaan luar. Alat indra
manusia sering disebut panca indra, karena terdiri dari lima indra yaitu indra
penglihat (mata), indra pendengar (telinga), indra pembau (hidung), indra
pengecap (lidah), dan indra peraba (kulit). Mata terdiridari otot mata, bola
mata, dan saraf mata, serta alat tambahan mata yaitu alis, kelopak mata, dan
bulu mata. Alat tambahan mata ini berfungsi melindungi mata dari keringat,
kelopak mata melindungi mata dari benturan dan bulu mata melindungi mata dari
cahaya yang kuat, dan debu kotoran (Wulandari, 2015).
Alat indera
adalah alat-alat tubuh yang berfungsi mengetahui keadaan luar. Alat indra
manusia sering disebut panca indra, karena terdiri dari lima indra yaitu indra
penglihat (mata), indra pendengar (telinga), indra pembau atau pencium
(hidung), indra pengecap (lidah) dan indra peraba (kulit) (Henny, 2015).
1. Indra Penglihatan (mata)
Mata adalah indra penglihatan. Saraf optikus atau urat saraf khanial pada mata keduanya adalah saraf sensorik untuk penglihatan. Saraf ini timbul dari sel-sel ganglion dalam retina yang bergabug untuk membentuk saraf optikus. Saraf ini bergerak ke belakang secara medial dan melintasi kalinas optikus menuju khiasma optikum. Saraf penglihatan memiliki tiga pembungkus yang serupa dengan yang ada pada meningen otak. Lapisan luarnya kuat dan fibrus serta bergabung dengan sklera, lapisan tengah halus seperti arakhnoid, sementara lapisan dalam adalah vakuler (mengandung banyak pembuluh darah) (Evelyn, 2006).
Pada saat serabut-serabut itu mencapai
khiasma optikum, maka separuh dari serabut-serabut itu akan menuju ke traktus
optikus sisi seberangnya, sementara separuhnya lagi menuju traktus optikus sisi
yang sama. Dengan perantaraan serabut-serabut ini, maka setiap serabut nervus
optikus dihubungkan dengan kedua sisi otak. Pusat visuil terletak pada kortex
lobus oksipitalis otak (Evelyn, 2006).
Menurut
(EVELYN, 2006), Bola mata adalah organ penglihat. Mata umumnya dilukiskan
sebagai bola, tetapi sebetulnya lonjong dan bukan bulat seperti bola. Bola mata
terletak dalam tulang orbita, serta dilingdungi oleh sejumlah struktur seperti
kelopak mata, alis, konkonjunktiva dan alat-alat lakrimal. Bola mata mempunyai
garis menengah kira-kira 21/2 sentimeter, bagian depannya
bening, serta terdiri dari tiga lapisan:
a.
Lapisan
luar, fibrus, yang merupakan lapisan penyangga
b.
Lapisan
tengah, vaskuler
c.
Lapisan
dalam, lapisan saraf
Ada
enam otot penggerak mata, empat diantaranya lurus, sementara dua lainnya agak
serong. Otot-otot itu teletak disebelah dalam orbita dan bergerak dari dinding
tulan orbita untuk dikaitkan pada pembungkus sklerotik mata sebelah belakang
korneo. Otot-otot lurus terdiri dari otot rektus mata seperior, inferior,
medial, dan lateral. Otot-otot ini menggerakkan mata ke atas, ke bawah, ke
dalam dan ke sisi luar bergantian (Evelyn, 2006).
Otot-otot oblik adalah otot
inferior dan superior. Otot oblik superior ini adalah yang menggerakkan mata ke
bawah dan ke sisi luar, sementara oto oblik inferior menngerkkan mataa ke atas
dan juga ke sisi luar. Mata bergerak serentak, dalam artian kedua mata bergerak
bersamaan ke kanan atau ke kiri, ke atas atau ke bawah dan seterusnya. Serabut-serabut
saraf yang melayani otot-otot ini adalah nervi motores okuli, yaitu saraf
kranial ketiga, keempat dan keenam (Evelyn, 2006).
Sklera adalah pembungkus
yang kuat dan fibrus. Sklera membentuk putih mata dan bersambung pada bagian
depan dengan sebuah jendela membran yang bening, yaitu konea. Sklera
melingdungi struktur mata yang sangat halus, serta membantu mempertahankan
bentuk biji mata (Evelyn, 2006).
Khroid atau lapisan tengah
berisi pembuluh darah, yang merupakan ranting-rangting arteria oftalmika,
cabang dari arteria koritis interna. Lapisan vaskuler ini membentuk iris yang
berlubang di tengahnya, atau disebut pupil (manik) mata. Selaput berpigmen
sebelah belakang iris memancarkan warnanya, dan dengan demikian menentukan
apakah sebuah mata itu berwarna biru, coklat, kelabu dan seterusnya.
Khoroidnbersambung pada bagian depannya dengan iris, dan tepat dibelakng iris,
seraput ini menebal guna membentuk korpus siliare itu berisi serabut otot
sirkuler terletak diantara khoroid dan iris. Korpus siliare itu berisi serabut
otot sirkuler dan serabut-serabut yang letaknya seperti jari-jari sebuah
lingkaran. Kontraksi otot sirkuler menyebabkan pupil mata juga berkontraksi
(Evelyn, 2006).
Retina adalah lapisan saraf
pada mata, yang terdiri dari sejumlah lapisan serabut, yaitu sel-sel saraf,
batang-batang dan kerucut. Semuanya termasuk dalam kontruksi retina, yang
merupakan jaringan saraf yang halus yang mengantarkan implus saraf dari luar
menuju diskus optik, disebut bintik buta,oleh karena tidak mempunyai retin.
Bagian yang paling peka pada retina adalah makula, yang terletak tepat external
terhadap diskus optik, persis berhadapan dengan pusat pupil (Evelyn, 2006).
Menurut (Evelyn, 2006) jika
kita teliti biji mata mulai dari depan hingga ke belakang, maka kan terlihat
bagian-bagian berikut;
a. Kornea, yang merupakan bagian depan yang
transparan dan bersambung dengan sklera yang putih dan tidak tembus cahaya.
Kornea terdiri atas beberapa lapisan. Lapisan tepi adalah epitelium berlapis yang
bersambung dengan konjunktiva.
b. Bilik anterior (kamera okuli anterior),
yang terletak antara dan iris.
c. Iris adalah tirai berwarna di depan
lensa yang bersambung dengan selaput khoroid. Iris berisi dua kelopak serabut
otot tak sadar atau otot polos, kelompok yang satu mengecilkan ukuran pupil,
sementara kelompok yang lain melebarkan ukuran pupil.
d. Pupil, bintik tengah yang berwarna
hitam, yang merupakan celah dalam iris, melalui mana cahaya masuk guna mencapai
retina.
e. Bilik posterior (kamera okuli posteior)
terletak diantara iris dan lensa. Baik bilik anterior, maupun bilik posterior
diisi dengan aqueus humor.
f. Aqueus humor. Cairan ini berasal dari
badan siliari dan diserap kembali ke dalam aliran darah pada sudut antara iris
dan kornea melalui vena halus yang dikenal sebagai saluran schemm.
g. Lensa adalah sebuah benda transfaran
bikonvex (cembung depan-belakang) yang terdiri dari beberapa lapisan. Lensa
terletak persis dibelakang iris. Membran yang dikenal sebagai ligamentum
suspensorium terdapat di depan maupun di belakng lensa itu, yang berfungsi
untuk mengaitkan lensa itu badan siliari. Bila ligamentum suspensorium
mengendor, maka lensa mengerut dan menebal, sebaliknya bila ligamen menegang,
lensa menjadi gepeng. Mengendornya lensa dikendalikan oleh kontraksi otot
siliari.
h. Vitreus Humor. Darah sebelah belakang
biji mata, mulai dari lensa hingga retina, diisi dengan cairan penuh albumen
berwarna keputih-putihan sepeti agar-agar, yaitu humor vitreus. Humor vitreus
berfungsi untuk memberi bentuk dan kekokohan pada mata, serta mempertahankan
hubungan antara retina dengan selaput khoroid dan sklerotik.
2. Indera Pengdengaran (Telinga)
Telinga adalah organ pendengaran. Saraf
yang melayani indera ini adalah saraf kranial kedelapan atau nervus
auditorius. Telinga terdiri dari tiga bagian, yaitu telinga bagian luar, telinga bagian tengah dan rongga telinga bagian dalam ( Evelyn, 2006).
a. Telinga luar terdiri atas aurikel atau
pinna, yang pada binatang rendahan berukuran besar serta dapat bergerak dan
membantu mengumpulkan gelombang suara dan meatus auditorius externa yang
menjorok ke dalam menjauhi pinna, serta menghantarkan getaran suara menuju
membrana timpani.
b. Telinga tengah atau rongga timpani
adalah bilik kecil yang mengandung udara. Rongga itu terletak sebelah dalam
membrana timpani atau gendang telinga, yang memisahkan rongga itu dari meatus
auditorius externa. Rongga itu sempit serta memiliki dinding tulang dan dinding
membranosa, sementara pada bagian belakangnya bersambung dengan antrum mastoid
dalam prosesus mastoideus pada tulang temporalis, melalui sebuah celah yang
disebut aditus.
c. Rongga telinga dalam berada dalam bagian
os petrosum tulang temporal. Rongga telinga dalam itu sediri terdiri dari
berbagai organ yang menyerupai saluran-saluran dalam tulang temporalis. Rongga-rongga
itu disebut labiri tulang dan dilapisi membran sehingga membentuk labirin
membranosa. Saluran-saluran bermembran ini mengandung cairan dan ujung-ujung
akhir saraf pendengaran dan keseimbangan.
3. Indra perasa (Lidah)
Pengecapan terutama merupakan
fungsi dari taste buds yang terdapat di dalam mulut, tetapi pengalaman juga
mengatakan indra penghidu sangat berperan pada persepsi pengecapan. Selain itu,
tekstur makanan, seperti yang diteksi oleh indra taktil di rongga mulut dan
adanya zat di dalam makanan seperti merica, yang merangsang ujung-ujung saraf
nyeri, akan sangat mengubah pengalaman dalam pengecapan. Makna penting
pengecapan terletak pada kenyataan pengecapan memungkinkan manusia memilih
makanan sesuai dengan keinginannya dan mungkin juga sesuai dengan kebutuhan
metabolik di jaringan tubuh terhadap zat-zat tertentu (Lauralee, 2014).
4. Indra peraba (Kulit)
Dengan kulit kita dapat
merasakan sentuhan. Bagian indra peraba yang paling peka adalah ujung jari,
telapak tangan, telapak kaki, bibir dan alat kemaluan. Seperti yang terlihat,
informasi sentuhan memainkan peran penting dalam memahami dunia. Menurut Malnar
dan Vodvarka, sistem sentuhan mencakup tiga cabang: sentuhan, suhu-kelembaban,
dan kinesthesia (Henny, 2015).
5. Indra pengciuman (Hidung)
Hidung merupakan indra
pengciuman dan juga sebagai alat pernapasan. Pada hidung terdapat
lubang-lubang, rongga hidung dan saraf pembau. Pada lubang hidung terdapat bulu
hidung. Bulu hidung berguna untuk menyaring udara yang masauk ke hidung.
Rangsangan bau masuk ke dalam hidung melalui serabut saraf yang terdapat di
bawah selaput lubang hidung. Rangsangan kemudian diteruskan oleh saraf ke otak,
barulah kita mencium bau tersebut (Rachmadi, 2015).
BAB
III
METODE PRAKTIKUM
A.
WAKTU
DAN TEMPAT
1.
Waktu
Adapun waktu yang digunakan pada
kali ini yaitu :
Hari : Sabtu
Tanggal : 21 Desember 2019
Pukul : 16.00-18.00 WITA
2. Tempat
Adapun tempat yang digunakan yaitu
Laboratorium Mikrobiologi,
gedung D lantai 1
D-IV Teknologi Laboratorium Medis Universitas Megarezky Makassar.
B.
ALAT
DAN BAHAN
1.
Alat
a) Skrap (penutup mata)
b)
Batu
c)
Alat tulis
2.
Bahan
a)
Bawang
putih
b)
Bawang
merah
c)
Cabe
d)
Permen
e)
Gula
pasir
f)
Gula
merah
g)
Garam
h)
Jeruk
nipis
i)
Daun
seledri
j)
pepaya
k)
Terasi
l)
Merica
m)
Kecap
C.
PROSEDUR
KERJA
1) Indra penglihatan
a. Diamati gambar yang terlihat pada jarak 2, 4,
6, 8, dan 10 meter tanpa menggunakan kaca mata
b. Dicatat hasil jarak penglihatan dengan
kategori ; tinggi, sedang, rendah
2) Indra penciuman
a. Disediakan alat dan bahan yang akan digunakan
b. Dilanjutkan praktikum menutup mata
dengan menggunakan skrap
c. Diukur kepekaan indra penciuman dengan
kategori ; tinggi, sedang, rendah
3) Indra pendengaran
a. Dianjurkan berteriak dengan volume kurang,
sedang, dan tinggi dibalik tembok atau kaca pintu
d. Dicatat hasil indra penciuman dengan kategori
; tinggi, sedang, rendah
4) Indra peraba
a. Disediakan alat dan bahan yang akan digunakan
b. Dilanjutkan praktikan menutup mata
dengan menggunakan skrap
c. Diukur kepekaan indra peraba dengan bahan yang
sudah ada
d. Disentuh secara perlahan-lahan bahan yang akan
diraba
e. Dicatat hasil indra penciuman dengan kategori
; tinggi, sedang, rendah
5.
Indra perasa
a. Disediakan alat dan bahan yang akan
digunakan
b. Dilanjutkan praktikan menutup mata
dengan menggunakan skrap
c. Dimasukkan bahan ke dalam mulut
d. Diukur kepekaan indra perasa dengan
hamba yang ada
e. Disentuh secara perlahan-lahan bahan
yang akan diraba
f. Dicatat hasil indra penciuman dengan kategori ; tinggi, sedang, rendah
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. HASIL
1. Tabel Pengamatan
|
No.
|
Panca Indra |
Hasil
|
||
|
Tinggi |
Sedang |
Rendah
|
||
|
1. |
Indra
penciuman: a.
Asril Betoki b.
citra yalisi c.
julisa jayanti sande d.
Noormiftahul jannah e. Rahmadani f.
Srimahyuni g.
Sriwirdana |
√ |
√ √ √ |
√ √ √ |
|
2. |
Indra
penglihatan: a. Asril Betoki b.
citra yalisi c.
julisa jayanti sande d. Noormiftahul jannah e. Rahmadani f.
Srimahyuni g. Sriwirdana |
√ √ √ √ |
|
√ √ √ |
|
3. |
Indra
pendengaran: a.
Asril Betoki b.
citra yalisi c.
julisa jayanti sande d.
Noormiftahul jannah e. Rahmadani f. Srimahyuni g.
Sriwirdana |
√ |
√ |
√ √ √ √ √ |
|
4. |
Indra
pengecap: a.
Asril Betoki b.
citra yalisi c.
julisa jayanti sande d.
Noormiftahul jannah e. Rahmadani f. Srimahyuni g.
Sriwirdana |
√ √ √ √ √ √ |
|
√ |
|
5. |
Indra
peraba: a.
Asril Betoki b.
citra yalisi c.
julisa jayanti sande d.
Noormiftahul jannah e. Rahmadani f. Srimahyuni g.
Sriwirdana |
|
√ √ |
√ √ √ √ √ |
|
|
|
|
|
|
Panca
indra merupakan bagian tubuh manusia yang memiliki fungsi khusus dalam
mengenali benda yang ada disekitarnya dalam bentusak bau, bentuk, rasa, suara,
dan gambar. Lima macam panca indra manusia masing – masing disebut sebagi indra
pembau (hidung), indra perasa (lidah), indra peraba (kulit), indra pendengaran
(telinga), dan indra penglihatan (mata).
lima panca indra
tersebut yakni indra penglihatan (mata) yang berfungsi untuk melihat melihat
lingkungan sekitarnya dalam bentuk gambar sehingga dengan mata bias mengenali
benda-benda yang ada di sekitarnya dengan cepat, indra pengecap (lidah) yang
berfungsi untuk merasakan rangsangan rasa dari makanan uang masuk kedalam
mulut, indra pembau (hidung) berfungsi untuk mengenali suatu lingkungan sekitar
atau sesuatu dari aroma yang dihasilkan, indra pendengaran (telinga) berfungsi
untuk mendengar suara yang ada disekitar kita, dan yang terakhir yaitu indra
peraba (kulit) yang berfungsi untuk menerima suatu rangsangan temperatur suhu,
sentuhan, rasa sakit, tekanan, tekstur, dan lain sebagainya.
Prosedur
kerja dan hasil dari praktikum masing-masing panca indra yaitu :
1.
Indra
penglihatan
Diamati
gambar yang terlihat pada jarak 2, 4, 6, 8, dan 10 meter tanpa menggunakan kaca
mata, dicatat hasil jarak penglihatan dengan kategori tinggi, sedang, rendah.
Hasil yang kami dapatkan setelah praktikum pasien
JL memiliki tingkat penglihatan mencakup kategori tinggi,
RH tinggi, AS tinggi, SM tinggi, SD sedang, NM rendah dan CY tinggi.
2.
Indra
penciuman
Disediakan
alat dan bahan yang akan digunakan, dilanjutkan praktikan menutup mata dengan
menggunakan skrap, diukur kepekaan indra penciuman dengan bahan yang sudah ada,
dicatat hasil indra penciuman dengan kategori tinggi, sedang, rendah. Hasil
yang kami dapatkan setelah praktikum JL
tingkat penciuman mencakup kategori tinggi, RH sedang, AS rendah, SM rendah, SW rendah, NM sedang, dan CY sedang.
3.
Indra
pendengaran
Dianjurkan
praktikan berteriak dengan volume kurang, sedang, dan tinggi dibalik tembok
atau kaca pintu, dicatat hasil indra penciuman dengan kategori tinggi, sedang,
rendah. Hasil yang kami dapatkan setelah praktikum JL memiliki tingkat pendengaran
mencakup kategori rendah, RH rendah,
AS rendah, SM sedang, SD tinggi, MN rendah dan CY rendah.
4.
Indra
peraba
Disediakan
alat dan bahan yang akan digunakan, dilanjutkan praktikan menutup mata dengan
menggunakan skrap, diukur kepekaan indra peraba dengan bahan yang sudah ada,
disentuh secara perlahan-lahan bahan yang akan diraba, dicatat hasil indra
penciuman dengan kategori tinggi, sedang, rendah. Hasil yang kami dapatkan
setelah praktikum Nn. JL memiliki tingkat
peraba mencakup kategori sedang ,
Nn. RH rendah, AS rendah, Nn. SM sedang, Nn. SD rendah, Nn. NM rendah, dan Nn. CY sedang.
5.
Indra
pengecap
Disediakan
alat dan bahan yang akan digunakan, dilanjutkan praktikan menutup mata dengan
menggunakan skrap, dimasukkan bahan ke dalam mulut, diukur kepekaan indra
perasa dengan hamba yang ada, disentuh secara perlahan-lahan bahan yang akan
diraba, dicatat hasil indra penciuman dengan kategori tinggi, sedang, rendah.
Hasil yang kami dapatkan setelah praktikum
JL tingkat peraba mencakup kategori tinggi, Nn. RH tinggi, AS tinggi, Nn. SM tinggi, Nn. SD rendah, Nn. NM tinggi dan Nn. CY tinggi.
Faktor – faktor yang mempengaruhi panca
indra adalah kesehatan pasien, pasien yang sedang menderita suatu penyakit
seperti flu dan minus pada mata, mengurangi kemampuan pasien dalam mencium dan
merasakan makanan serta dalam melihat benda. Hal ini disebabkan, hidung
tersumbat dengan air lir dan bayangan mata tidak pas sampai ke retina. Selain
itu, lingkungan juga dapat mempengaruhi panca indra seperti pendengaran. Hal
ini disebabka, lingkungan yang berisik membuat impuls suaru yang disampaikan pasien
menjadi tidak jelas serta untuk panca indra peraba adalah sentuhan benda yang
diberikan kepada pasien yang kurang pas sehingga pasien tidak tahu dengan pasti
benda apa yang disentuhnya selain itu, benda yang belum pernah dikenali pasien
juga mempengaruhi hasil dari panca indra peraba.
BAB
V
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil praktikum yang telah
kami lakukan, kesimpulan yang dapat kami ambil dari praktikum ini adalah :
1. Indra penglihatan
Hasil yang kami dapatkan setelah praktikum Nn.JL memiliki tingkat penglihatan mencakup kategori tinggi, RH tinggi, AS tinggi, SM tinggi, SD sedang, NM rendah dan CY tinggi.
2. Indra penciuman
Hasil yang kami dapatkan setelah praktikum Nn. JL tingkat penciuman mencakup kategori tinggi, RH sedang, AS rendah, SM rendah, SW rendah, NM sedang, dan CY sedang.
3. Indra pendengaran
Hasil yang kami dapatkan setelah praktikum JL memiliki tingkat pendengaran mencakup kategori rendah, RH rendah, AS rendah, SM sedang, SD tinggi, MN rendah dan CY rendah.
4. Indra peraba
Hasil yang kami dapatkan setelah praktikum Nn. JL memiliki tingkat peraba mencakup kategori sedang , Nn. RH rendah, AS rendah, Nn. SM sedang, Nn. SD rendah, Nn. NM rendah, dan Nn. CY sedang.
5. Indra pengecap
Hasil yang kami dapatkan setelah praktikum JL tingkat peraba mencakup kategori tinggi, Nn. RH tinggi, AS tinggi, Nn. SM tinggi, Nn. SD rendah, Nn. NM tinggi dan Nn. CY tinggi.
B.
SARAN
Diharapkan pada praktikum selanjutnya
mahasiswa yang mengikuti proses praktikum, waktu yang telah disediakan
dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, agar data yang diperoleh sesuai dengan yang
diharapkan dan para peserta praktikum sebaiknya mematuhi aturan, tata tertib,
dan prosedur kerja dan memakai APD lengkap agar terhindar dari kecelakaan
kerja.
DAFTAR PUSTAKA
Pearce,
c. Evelyn. 2006. “Anatomi dan fisiologi
untuk paramedis”. Jakarta. PT
Gramedia Building.
Riska,
Annisa Asafira. (2016). Peran
Panca Indra Dalam Pengalaman Ruang. Vol.3 No. 4
Salam,
rachmai achirul. Suyitno. 2015. “ IPA
Ilmu Pengetahuan Alam” Bogor. Yudistira.
Sherwood,
lauralee. 2015. “Fisiologi manusia”.
Jakarta. Buku kedokteran EGC.
Wulandari,
henny. Yusita, kusumarini. Dkk. “Perangcangan
interior five sense di surabaya”. Jurnal
intra. Vol. 3. No. 2.