Tuesday, May 26, 2020




BAB I

PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG

Panca indra merupakan basgian tubuh manusia yang memiliki fungsi khusus dalam mengenali benda yang ada disekitarnya dalam bentusak bau, bentuk, rasa, suara, dan gambar. Lima macam panca indra manusia masing – masing disebut sebagi indra pembau (hidung), indra perasa (lidah), indra peraba (kulit), indra pendengaran (telinga), dan indra penglihatan (mata).

Setiap individu diciptakan dengan sitem indra yang digunakan dan lengkap untuk mampu berinteraksi dengan keadaan lingkungan sekitar, yang dapat diperoleh melalui indra. Informasi tersebut dihantarkan keotak untuk diolah dan diartikan sehingga individu melihat, mendengar, mencium, mengecap, dan meraba. Jadi masing-masing alat indra memiliki kepekaan terhadap rangsangan dari luar yang disebut reseptor.

 Alat indra kita memiliki bagian yang dapat menerima rangsang berupa ujung-ujung saraf sensorik atau sel-sel reseptor. Satu macam reseptor hanya mampu menanggapi satu macam rangsangan, rangsangan yang diterima oleh sel reseptor terlebih dulu kemudian dihantarkan ke pusat susunan saraf melalui serabut saraf sensorik. Didalam pusat susunan saraf, impuls saraf tersebut diolah dan diartikan sehingga individu mengetahui apa yang terjadi di sekitar kita. Setelah itu, otak memerintahkan jenis tanggapan yang akan diberikan. Hal ini merupakan bagian dari mekanisme otomatis indra manusia dalam menerima dan memproses informasi yang kemudian menjadi bagian dari pikiran, memori serata dunia. 

B.    TUJUAN

      Uuntuk mengetahui tingkat kepekaan dalam membedakan bahan pada indra penciuman, indra penglihatan, indra perasa, indra peraba, dan indra pendengara

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Panca indra adalah alat-alat tubuh yang berfungsi mengetahui keadaan luar. Alat indra manusia sering disebut panca indra, karena terdiri dari lima indra yaitu indra penglihat (mata), indra pendengar (telinga), indra pembau (hidung), indra pengecap (lidah), dan indra peraba (kulit). Mata terdiridari otot mata, bola mata, dan saraf mata, serta alat tambahan mata yaitu alis, kelopak mata, dan bulu mata. Alat tambahan mata ini berfungsi melindungi mata dari keringat, kelopak mata melindungi mata dari benturan dan bulu mata melindungi mata dari cahaya yang kuat, dan debu kotoran (Wulandari, 2015).

Alat indera adalah alat-alat tubuh yang berfungsi mengetahui keadaan luar. Alat indra manusia sering disebut panca indra, karena terdiri dari lima indra yaitu indra penglihat (mata), indra pendengar (telinga), indra pembau atau pencium (hidung), indra pengecap (lidah) dan indra peraba (kulit) (Henny, 2015).

1. Indra Penglihatan (mata)

            Mata adalah indra penglihatan. Saraf optikus atau urat saraf khanial pada mata keduanya adalah saraf sensorik untuk penglihatan. Saraf ini timbul dari sel-sel ganglion dalam retina yang bergabug untuk membentuk saraf optikus. Saraf ini bergerak ke belakang secara medial dan melintasi kalinas optikus menuju khiasma optikum. Saraf penglihatan memiliki tiga pembungkus yang serupa dengan yang ada pada meningen otak. Lapisan luarnya kuat dan fibrus serta bergabung dengan sklera, lapisan tengah halus seperti arakhnoid, sementara lapisan dalam adalah vakuler (mengandung banyak pembuluh darah) (Evelyn, 2006).

            Pada saat serabut-serabut itu mencapai khiasma optikum, maka separuh dari serabut-serabut itu akan menuju ke traktus optikus sisi seberangnya, sementara separuhnya lagi menuju traktus optikus sisi yang sama. Dengan perantaraan serabut-serabut ini, maka setiap serabut nervus optikus dihubungkan dengan kedua sisi otak. Pusat visuil terletak pada kortex lobus oksipitalis otak (Evelyn, 2006).

              Menurut (EVELYN, 2006), Bola mata adalah organ penglihat. Mata umumnya dilukiskan sebagai bola, tetapi sebetulnya lonjong dan bukan bulat seperti bola. Bola mata terletak dalam tulang orbita, serta dilingdungi oleh sejumlah struktur seperti kelopak mata, alis, konkonjunktiva dan alat-alat lakrimal. Bola mata mempunyai garis menengah kira-kira 21/2 sentimeter, bagian depannya bening, serta terdiri dari tiga lapisan:

a.    Lapisan luar, fibrus, yang merupakan lapisan penyangga

b.    Lapisan tengah, vaskuler

c.    Lapisan dalam, lapisan saraf

          Ada enam otot penggerak mata, empat diantaranya lurus, sementara dua lainnya agak serong. Otot-otot itu teletak disebelah dalam orbita dan bergerak dari dinding tulan orbita untuk dikaitkan pada pembungkus sklerotik mata sebelah belakang korneo. Otot-otot lurus terdiri dari otot rektus mata seperior, inferior, medial, dan lateral. Otot-otot ini menggerakkan mata ke atas, ke bawah, ke dalam dan ke sisi luar bergantian (Evelyn, 2006).

            Otot-otot oblik adalah otot inferior dan superior. Otot oblik superior ini adalah yang menggerakkan mata ke bawah dan ke sisi luar, sementara oto oblik inferior menngerkkan mataa ke atas dan juga ke sisi luar. Mata bergerak serentak, dalam artian kedua mata bergerak bersamaan ke kanan atau ke kiri, ke atas atau ke bawah dan seterusnya. Serabut-serabut saraf yang melayani otot-otot ini adalah nervi motores okuli, yaitu saraf kranial ketiga, keempat dan keenam (Evelyn, 2006).

            Sklera adalah pembungkus yang kuat dan fibrus. Sklera membentuk putih mata dan bersambung pada bagian depan dengan sebuah jendela membran yang bening, yaitu konea. Sklera melingdungi struktur mata yang sangat halus, serta membantu mempertahankan bentuk biji mata (Evelyn, 2006).

            Khroid atau lapisan tengah berisi pembuluh darah, yang merupakan ranting-rangting arteria oftalmika, cabang dari arteria koritis interna. Lapisan vaskuler ini membentuk iris yang berlubang di tengahnya, atau disebut pupil (manik) mata. Selaput berpigmen sebelah belakang iris memancarkan warnanya, dan dengan demikian menentukan apakah sebuah mata itu berwarna biru, coklat, kelabu dan seterusnya. Khoroidnbersambung pada bagian depannya dengan iris, dan tepat dibelakng iris, seraput ini menebal guna membentuk korpus siliare itu berisi serabut otot sirkuler terletak diantara khoroid dan iris. Korpus siliare itu berisi serabut otot sirkuler dan serabut-serabut yang letaknya seperti jari-jari sebuah lingkaran. Kontraksi otot sirkuler menyebabkan pupil mata juga berkontraksi (Evelyn, 2006).

            Retina adalah lapisan saraf pada mata, yang terdiri dari sejumlah lapisan serabut, yaitu sel-sel saraf, batang-batang dan kerucut. Semuanya termasuk dalam kontruksi retina, yang merupakan jaringan saraf yang halus yang mengantarkan implus saraf dari luar menuju diskus optik, disebut bintik buta,oleh karena tidak mempunyai retin. Bagian yang paling peka pada retina adalah makula, yang terletak tepat external terhadap diskus optik, persis berhadapan dengan pusat pupil (Evelyn, 2006).

            Menurut (Evelyn, 2006) jika kita teliti biji mata mulai dari depan hingga ke belakang, maka kan terlihat bagian-bagian berikut;

a.    Kornea, yang merupakan bagian depan yang transparan dan bersambung dengan sklera yang putih dan tidak tembus cahaya. Kornea terdiri atas beberapa lapisan. Lapisan tepi adalah epitelium berlapis yang bersambung dengan konjunktiva.

b.     Bilik anterior (kamera okuli anterior), yang terletak antara dan iris.

c.     Iris adalah tirai berwarna di depan lensa yang bersambung dengan selaput khoroid. Iris berisi dua kelopak serabut otot tak sadar atau otot polos, kelompok yang satu mengecilkan ukuran pupil, sementara kelompok yang lain melebarkan ukuran pupil.

d.    Pupil, bintik tengah yang berwarna hitam, yang merupakan celah dalam iris, melalui mana cahaya masuk guna mencapai retina.

e.    Bilik posterior (kamera okuli posteior) terletak diantara iris dan lensa. Baik bilik anterior, maupun bilik posterior diisi dengan aqueus humor.

f.    Aqueus humor. Cairan ini berasal dari badan siliari dan diserap kembali ke dalam aliran darah pada sudut antara iris dan kornea melalui vena halus yang dikenal sebagai saluran schemm.

g.  Lensa adalah sebuah benda transfaran bikonvex (cembung depan-belakang) yang terdiri dari beberapa lapisan. Lensa terletak persis dibelakang iris. Membran yang dikenal sebagai ligamentum suspensorium terdapat di depan maupun di belakng lensa itu, yang berfungsi untuk mengaitkan lensa itu badan siliari. Bila ligamentum suspensorium mengendor, maka lensa mengerut dan menebal, sebaliknya bila ligamen menegang, lensa menjadi gepeng. Mengendornya lensa dikendalikan oleh kontraksi otot siliari.

h.  Vitreus Humor. Darah sebelah belakang biji mata, mulai dari lensa hingga retina, diisi dengan cairan penuh albumen berwarna keputih-putihan sepeti agar-agar, yaitu humor vitreus. Humor vitreus berfungsi untuk memberi bentuk dan kekokohan pada mata, serta mempertahankan hubungan antara retina dengan selaput khoroid dan sklerotik.

2. Indera Pengdengaran (Telinga)

Telinga adalah organ pendengaran. Saraf yang melayani indera ini adalah saraf kranial kedelapan atau nervus auditorius. Telinga terdiri dari tiga bagian, yaitu telinga bagian luar, telinga bagian tengah dan rongga telinga bagian dalam ( Evelyn, 2006).

a.   Telinga luar terdiri atas aurikel atau pinna, yang pada binatang rendahan berukuran besar serta dapat bergerak dan membantu mengumpulkan gelombang suara dan meatus auditorius externa yang menjorok ke dalam menjauhi pinna, serta menghantarkan getaran suara menuju membrana timpani.

b. Telinga tengah atau rongga timpani adalah bilik kecil yang mengandung udara. Rongga itu terletak sebelah dalam membrana timpani atau gendang telinga, yang memisahkan rongga itu dari meatus auditorius externa. Rongga itu sempit serta memiliki dinding tulang dan dinding membranosa, sementara pada bagian belakangnya bersambung dengan antrum mastoid dalam prosesus mastoideus pada tulang temporalis, melalui sebuah celah yang disebut aditus.

c.   Rongga telinga dalam berada dalam bagian os petrosum tulang temporal. Rongga telinga dalam itu sediri terdiri dari berbagai organ yang menyerupai saluran-saluran dalam tulang temporalis. Rongga-rongga itu disebut labiri tulang dan dilapisi membran sehingga membentuk labirin membranosa. Saluran-saluran bermembran ini mengandung cairan dan ujung-ujung akhir saraf pendengaran dan keseimbangan.

3. Indra perasa (Lidah)

            Pengecapan terutama merupakan fungsi dari taste buds yang terdapat di dalam mulut, tetapi pengalaman juga mengatakan indra penghidu sangat berperan pada persepsi pengecapan. Selain itu, tekstur makanan, seperti yang diteksi oleh indra taktil di rongga mulut dan adanya zat di dalam makanan seperti merica, yang merangsang ujung-ujung saraf nyeri, akan sangat mengubah pengalaman dalam pengecapan. Makna penting pengecapan terletak pada kenyataan pengecapan memungkinkan manusia memilih makanan sesuai dengan keinginannya dan mungkin juga sesuai dengan kebutuhan metabolik di jaringan tubuh terhadap zat-zat tertentu (Lauralee, 2014).

4. Indra peraba (Kulit)

            Dengan kulit kita dapat merasakan sentuhan. Bagian indra peraba yang paling peka adalah ujung jari, telapak tangan, telapak kaki, bibir dan alat kemaluan. Seperti yang terlihat, informasi sentuhan memainkan peran penting dalam memahami dunia. Menurut Malnar dan Vodvarka, sistem sentuhan mencakup tiga cabang: sentuhan, suhu-kelembaban, dan kinesthesia (Henny, 2015).

5. Indra pengciuman (Hidung)

            Hidung merupakan indra pengciuman dan juga sebagai alat pernapasan. Pada hidung terdapat lubang-lubang, rongga hidung dan saraf pembau. Pada lubang hidung terdapat bulu hidung. Bulu hidung berguna untuk menyaring udara yang masauk ke hidung. Rangsangan bau masuk ke dalam hidung melalui serabut saraf yang terdapat di bawah selaput lubang hidung. Rangsangan kemudian diteruskan oleh saraf ke otak, barulah kita mencium bau tersebut (Rachmadi, 2015).

 

BAB III

METODE PRAKTIKUM

A.    WAKTU DAN TEMPAT

1.   Waktu

              Adapun waktu yang digunakan pada kali ini yaitu :

Hari                   : Sabtu

Tanggal             : 21 Desember 2019   

Pukul                : 16.00-18.00 WITA

2.   Tempat

         Adapun tempat yang digunakan yaitu Laboratorium Mikrobiologi, gedung D lantai 1 D-IV Teknologi Laboratorium Medis Universitas Megarezky Makassar.

B.    ALAT DAN BAHAN

1.   Alat

a)   Skrap (penutup mata)

b)   Batu

c)   Alat tulis

2.   Bahan

a)   Bawang putih

b)   Bawang merah

c)   Cabe 

d)  Permen

e)   Gula pasir

f)    Gula merah

g)   Garam

h)   Jeruk nipis

i)     Daun seledri

j)     pepaya

k)   Terasi

l)     Merica

m) Kecap

C.    PROSEDUR KERJA

1)   Indra penglihatan

a.  Diamati gambar yang terlihat pada jarak 2, 4, 6, 8, dan 10 meter tanpa menggunakan kaca mata

b.  Dicatat hasil jarak penglihatan dengan kategori ; tinggi, sedang, rendah

2)   Indra penciuman

a.  Disediakan alat dan bahan yang akan digunakan

b. Dilanjutkan praktikum menutup mata dengan menggunakan skrap

c. Diukur kepekaan indra penciuman dengan kategori ; tinggi, sedang, rendah

3)   Indra pendengaran

a.  Dianjurkan berteriak dengan volume kurang, sedang, dan tinggi dibalik tembok atau kaca pintu

d.    Dicatat hasil indra penciuman dengan kategori ; tinggi, sedang, rendah

4)   Indra peraba

a.  Disediakan alat dan bahan yang akan digunakan

b. Dilanjutkan praktikan menutup mata dengan menggunakan skrap

c.  Diukur kepekaan indra peraba dengan bahan yang sudah ada

d.   Disentuh secara perlahan-lahan bahan yang akan diraba

e.  Dicatat hasil indra penciuman dengan kategori ; tinggi, sedang, rendah

5. Indra perasa

a.    Disediakan alat dan bahan yang akan digunakan

b.   Dilanjutkan praktikan menutup mata dengan menggunakan skrap

c.    Dimasukkan bahan ke dalam mulut

d.   Diukur kepekaan indra perasa dengan hamba yang ada

e.    Disentuh secara perlahan-lahan bahan yang akan diraba

f.    Dicatat hasil indra penciuman dengan kategori ; tinggi, sedang, rendah

 

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN


A.    
HASIL

1.    Tabel Pengamatan

No.

Panca Indra

Hasil

Tinggi

Sedang

Rendah

1.

Indra penciuman:

a. Asril Betoki

b. citra yalisi

c. julisa jayanti sande

d. Noormiftahul jannah

e. Rahmadani

f. Srimahyuni

g. Sriwirdana

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2.

Indra penglihatan:

a. Asril Betoki

b. citra yalisi

c. julisa jayanti sande

d. Noormiftahul jannah

e. Rahmadani

f. Srimahyuni

g. Sriwirdana

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3.

Indra pendengaran:

a. Asril Betoki

b. citra yalisi

c. julisa jayanti sande

d. Noormiftahul jannah

e. Rahmadani

f. Srimahyuni

g. Sriwirdana

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4.

Indra pengecap:

a. Asril Betoki

b. citra yalisi

c. julisa jayanti sande

d. Noormiftahul jannah

e. Rahmadani

f. Srimahyuni

g. Sriwirdana

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

5.

Indra peraba:

a. Asril Betoki

b. citra yalisi

c. julisa jayanti sande

d. Noormiftahul jannah

e. Rahmadani

f. Srimahyuni

g. Sriwirdana

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


B.    
Pembahasan

  Panca indra merupakan bagian tubuh manusia yang memiliki fungsi khusus dalam mengenali benda yang ada disekitarnya dalam bentusak bau, bentuk, rasa, suara, dan gambar. Lima macam panca indra manusia masing – masing disebut sebagi indra pembau (hidung), indra perasa (lidah), indra peraba (kulit), indra pendengaran (telinga), dan indra penglihatan (mata).

   lima panca indra tersebut yakni indra penglihatan (mata) yang berfungsi untuk melihat melihat lingkungan sekitarnya dalam bentuk gambar sehingga dengan mata bias mengenali benda-benda yang ada di sekitarnya dengan cepat, indra pengecap (lidah) yang berfungsi untuk merasakan rangsangan rasa dari makanan uang masuk kedalam mulut, indra pembau (hidung) berfungsi untuk mengenali suatu lingkungan sekitar atau sesuatu dari aroma yang dihasilkan, indra pendengaran (telinga) berfungsi untuk mendengar suara yang ada disekitar kita, dan yang terakhir yaitu indra peraba (kulit) yang berfungsi untuk menerima suatu rangsangan temperatur suhu, sentuhan, rasa sakit, tekanan, tekstur, dan lain sebagainya.

  Prosedur kerja dan hasil dari praktikum masing-masing panca indra yaitu :

1.         Indra penglihatan

Diamati gambar yang terlihat pada jarak 2, 4, 6, 8, dan 10 meter tanpa menggunakan kaca mata, dicatat hasil jarak penglihatan dengan kategori tinggi, sedang, rendah. Hasil yang kami dapatkan setelah praktikum pasien JL memiliki tingkat penglihatan mencakup kategori tinggi, RH tinggi, AS tinggi, SM tinggi, SD sedang, NM rendah dan CY tinggi.

2.         Indra penciuman

Disediakan alat dan bahan yang akan digunakan, dilanjutkan praktikan menutup mata dengan menggunakan skrap, diukur kepekaan indra penciuman dengan bahan yang sudah ada, dicatat hasil indra penciuman dengan kategori tinggi, sedang, rendah. Hasil yang kami dapatkan setelah praktikum JL tingkat penciuman mencakup kategori tinggi, RH sedang, AS rendah, SM rendah, SW rendah, NM sedang, dan CY sedang.

3.         Indra pendengaran

Dianjurkan praktikan berteriak dengan volume kurang, sedang, dan tinggi dibalik tembok atau kaca pintu, dicatat hasil indra penciuman dengan kategori tinggi, sedang, rendah. Hasil yang kami dapatkan setelah praktikum JL memiliki tingkat pendengaran mencakup kategori rendah, RH rendah, AS rendah, SM sedang, SD tinggi, MN rendah dan CY rendah.

4.         Indra peraba

Disediakan alat dan bahan yang akan digunakan, dilanjutkan praktikan menutup mata dengan menggunakan skrap, diukur kepekaan indra peraba dengan bahan yang sudah ada, disentuh secara perlahan-lahan bahan yang akan diraba, dicatat hasil indra penciuman dengan kategori tinggi, sedang, rendah. Hasil yang kami dapatkan setelah praktikum Nn. JL memiliki tingkat peraba mencakup kategori sedang , Nn. RH rendah, AS rendah, Nn. SM sedang, Nn. SD rendah, Nn. NM rendah, dan Nn. CY sedang.

5.         Indra pengecap

Disediakan alat dan bahan yang akan digunakan, dilanjutkan praktikan menutup mata dengan menggunakan skrap, dimasukkan bahan ke dalam mulut, diukur kepekaan indra perasa dengan hamba yang ada, disentuh secara perlahan-lahan bahan yang akan diraba, dicatat hasil indra penciuman dengan kategori tinggi, sedang, rendah. Hasil yang kami dapatkan setelah praktikum JL tingkat peraba mencakup kategori tinggi, Nn. RH tinggi, AS tinggi, Nn. SM tinggi, Nn. SD rendah, Nn. NM tinggi dan Nn. CY tinggi.

   Faktor – faktor yang mempengaruhi panca indra adalah kesehatan pasien, pasien yang sedang menderita suatu penyakit seperti flu dan minus pada mata, mengurangi kemampuan pasien dalam mencium dan merasakan makanan serta dalam melihat benda. Hal ini disebabkan, hidung tersumbat dengan air lir dan bayangan mata tidak pas sampai ke retina. Selain itu, lingkungan juga dapat mempengaruhi panca indra seperti pendengaran. Hal ini disebabka, lingkungan yang berisik membuat impuls suaru yang disampaikan pasien menjadi tidak jelas serta untuk panca indra peraba adalah sentuhan benda yang diberikan kepada pasien yang kurang pas sehingga pasien tidak tahu dengan pasti benda apa yang disentuhnya selain itu, benda yang belum pernah dikenali pasien juga mempengaruhi hasil dari panca indra peraba.

 

BAB V

PENUTUP

A.    KESIMPULAN

      Berdasarkan hasil praktikum yang telah kami lakukan, kesimpulan yang dapat kami ambil dari praktikum ini adalah :

1.   Indra penglihatan

        Hasil yang kami dapatkan setelah praktikum Nn.JL memiliki tingkat penglihatan mencakup kategori tinggi, RH tinggi, AS tinggi, SM tinggi, SD sedang, NM rendah dan CY tinggi.

2.   Indra penciuman

        Hasil yang kami dapatkan setelah praktikum Nn. JL tingkat penciuman mencakup kategori tinggi, RH sedang, AS rendah, SM rendah, SW rendah, NM sedang, dan CY sedang.

3.   Indra pendengaran

        Hasil yang kami dapatkan setelah praktikum JL memiliki tingkat pendengaran mencakup kategori rendah, RH rendah, AS rendah, SM sedang, SD tinggi, MN rendah dan CY rendah.

4.   Indra peraba

        Hasil yang kami dapatkan setelah praktikum Nn. JL memiliki tingkat peraba mencakup kategori sedang , Nn. RH rendah, AS rendah, Nn. SM sedang, Nn. SD rendah, Nn. NM rendah, dan Nn. CY sedang.

5.   Indra pengecap

          Hasil yang kami dapatkan setelah praktikum JL tingkat peraba mencakup kategori tinggi, Nn. RH tinggi, AS tinggi, Nn. SM tinggi, Nn. SD rendah, Nn. NM tinggi dan Nn. CY tinggi.


B.    SARAN

     Diharapkan pada praktikum selanjutnya mahasiswa yang mengikuti proses praktikum, waktu yang telah disediakan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, agar data yang diperoleh sesuai dengan yang diharapkan dan para peserta praktikum sebaiknya mematuhi aturan, tata tertib, dan prosedur kerja dan memakai APD lengkap agar terhindar dari kecelakaan kerja.

 

DAFTAR PUSTAKA

Pearce, c. Evelyn. 2006. “Anatomi dan fisiologi untuk paramedis”. Jakarta. PT     Gramedia Building.

 

Riska, Annisa Asafira. (2016).  Peran Panca Indra Dalam Pengalaman Ruang. Vol.3 No. 4

 

Salam, rachmai achirul. Suyitno. 2015. “ IPA Ilmu Pengetahuan Alam” Bogor. Yudistira.

 

Sherwood, lauralee. 2015. “Fisiologi manusia”. Jakarta. Buku kedokteran EGC.

 

Wulandari, henny. Yusita, kusumarini. Dkk. “Perangcangan interior five sense di surabaya”. Jurnal intra. Vol. 3. No. 2.

 

Kampuskeren . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates